Selasa, 30 November 2010

HAL KONYOL DI MESJID AGUNG SIDOARJO (3 HABIS)

- BAGIAN PERTAMA-

ANDAI ANDA ingin lebih menyadari bahwa planet bumi ini sejatinya dipenuhi juga oleh orang-orang yang absurd gila dan berbau konyol, cobalah untuk bertandang ke Mesjid Agung Sidoarjo, pada hari Jumat, tepat saat jam shalat Jumat. Anda akan menjumpai sesuatu hal yang unreasonable dan menggelikan.

Kawan karibku lah yang pada mulanya mengajak, “Kalau kau ingin shalat Jumat yang serba gila, ayolah ikut denganku.” Tapi sungguh benar, awalnya niatku ke sana memang hendak menunaikan kemuliaan ibadah shalat Jumat, namun nyatanya yang terjadi adalah lain: niat mulia itu akhirnya menguap terlebur oleh situasi kegilaan yang berada di sekitar Mesjid. Tepatnya di bagian pelataran depan Mesjid Agung Sidoarjo, pertunjukan drama komedi konyol ini berlangsung. Dan ini terjadi setiap pekan, setiap Jumat.



Dimulai sejak aku terdampar di halaman parkir Mesjid (26/11/2010), aku dikejutkan dengan fenomena di pelataran Mesjid yang tak ubahnya seperti pasar rombengan. “Waks, apa-apan ini??!!” demikian pikirku.

Karena penasaran, aku menghambur ke sana. Betapa aku tersentak luar biasa, begitu melihat kerumunan para pedagang yang berjajar-jajar meruahi pelataran Mesjid. Mereka bukanlah para pedagang biasa, melainkan para pedagang konyol yang sengaja diutus oleh Tuhan dari langit untuk membuatku tertawa terkekeh-kekeh pada siang hari itu.

Aku menjumpai di sana, jajaran pedagang yang ganjil-ganjil. Dan lebih dari itu, di sana benar-benar berlangsung praktek pertempuran pemasaran yang tak tertanggungkan. Masing-masing dari mereka benar-benar menerapkan strategi marketing dengan teknik presentasi yang amat menawan. Dan pelakunya adalah orang-orang yang sedang terjangkiti penyakit virus gila yang entah berasal dari manakah asal muasalnya. Aku melihat fenomena gila semacam ini semakin kumat saja, apalagi setelah shalat Jumat selesai.


Pedagang pertama yang membuatku menjadi terbelalak mata adalah: pedagang lem kuat. Pakaiannya compang-camping mirip gembel habis disetrum. Ia adalah pria kakek tua seumuran Pimpinan Redaksi TVOne Karni Ilyas, menggelar dagangan lem-nya di atas karung mangkak rombengan tengik. Jika ia bicara, mulutnya mirip burung auk auk. Dan yang dijualnya adalah sebuah produk lem kuat yang menurutnya adalah tersakti sepanjang sejarah peradaban manusia, dengan panampilan context: tanpa merek, kemasan botol kecil bekas sirup pemanis, dan pokoknya serba tak meyakinkan. Tapi amboy!! Lihatlah, bagaimana teknik presentasi hebatnya.

“Lem ini adalah lem terkuat dan paling kuat. Harga boleh murah, tapi kualitas tak akan kalah dengan lem-lem yang mahal di manapun. Aku berani bertaruh kuat-kuatan sama lem Castol. Lem Castol tak akan ada apa-apanya dengan lem sakti-ku ini.”

Lantas ia memeragakan adegan menyambungkan dua bagian karet sandal yang terputus. Lalu dihantarkannya karet sandal yang tersambung itu ke haribaanku.

“Silahkan, tariklah! Kalau perlu, tarik sama rakyat se-Jawa Timur!!! Mau lima, sepuluh, dua puluh orang, sesuka-sukanya!!!” lantangnya.

Aku menariknya kuat-kuat sendirian. Kukerahkan seluruh energiku. Ternyata benar, aku memang tak kuasa buat mengatasi kecanggihan lem sakti tersebut. Karena bangga, ia meledak lagi, “Lem ini adalah diracik oleh aku sendiri. Yang mewadahi ke dalam botol adalah istriku sendiri. Bisa dibuat menge-lem sepeda, mobil, sepur, sampai pesawat terbang!! Batu pun bisa di-lem. Asal … asal jangan dibuat menge-lem es batu. Itu saja!!” aku tertawa sampai-sampai amat sakitlah perutku.

“Di toko, harga lem ini adalah tujuh ribu rupiah. Tapi siang hari ini, diskon!! Aku menjual khusus untuk Anda seharga lima ribu rupiah,” kecamuknya sekali lagi mirip sepur tanpa rem. ‘Glek!! Toko macam apa yang menjual lem dengan penampilan congkrang-congkrang macam begitu?’ demikian pikirku.

Orang-orang berkerumun di sekitar kami. Satu per satu orang mulai bertransaksi membeli lem sakti tersebut seharga lima ribu rupiah. Betul-betul kuperhatikan, dalam tempo waktu cepat, dagangan lem yang sebelumnya berjumlah kira-kira 40-an botol, semuanya telah raib. Dan mereka yang membeli adalah notabene pria-pria berseragam dinas dan perkantoran—karena memang Mesjid Agung Sidoarjo dikepung oleh komplek perkantoran.

Sebuah kesimpulan besar telah kudapat: pria gaek penjual lem tersebut adalah masuk dalam golongan manusia bumi yang hebat. Aku yakin ia tak lulus sekolah tinggi, tapi nyatanya ia mampu mempengaruhi sebanyak-banyaknya orang untuk membeli produknya—dalam tanda kutip: penampilan context produk konyolnya itu benar-benar amat tak meyakinkan. Apalagi, mereka yang membeli notabene adalah kalangan terdidik dan pria-pria berdasi. Five thumbs up for him. Aku sempat bertanya-tanya kepada Tuhan: mengapa semangatku kalah dengannya? Aku sempat malu kepada diriku sendiri.


Lantas aku menyongsong ke arah timur. Semakin ke timur, semakin sinting saja situasinya. Aku menjumpai di sana: penjual obat perontok bulu, bisa merontokkan bulu ketiak sampai macam bulu apa saja. Bersaingan dagang dengan musuh di sebelahnya: penjual obat raja bulu. Melebatkan berbagai aneka bulu. Wuah!! Sebuah kompetisi dagang yang amat tak tertanggungkan. Melihat pertarungan dagang antara dua orang eksentrik tersebut, aku merasa dunia ini tak akan pernah kiamat saja, selama-lamanya ….

Dua pedagang yang bertautan dengan bulu tersebut, masing-masing juga menerapkan teknik presentasi sesuka-suka mereka. Mereka menggelar berbotol-botol obat mujarab-nya, sembari digelar beraneka kliping-kliping berita dari koran kumal mengenai segala hal yang bertautan dengan: bulu.

***

Akal sehatku mulai makin tak waras ketika aku menjumpai sesosok pedagang yang berpenampilan setengah telanjang mirip seekor binatang melata sedang mengintip mangsa.

<BERSAMBUNG>



Jikalau engkau sedang murung, datang-datanglah ke negeri kami, negeri kedamaian ….
www.negerikedamaian.tk

2 komentar:

Anonim mengatakan...

PKL dilawan.

tedjaadit1 mengatakan...

Ini yg lebih menggelikan dari masjid ini broo...masjid ini berlantai 3, samping persis menghadap WC/kamar mandi laki-laki. Biasanya kaum homo nongkrong di lantai 2 dan 3 untuk melihat jamaah laki2 sedang kencing atau mandi. Tolong kepada takmir masjid agar jendela bening wc/kamar mandi di rubah menjadi tembok agar tdk bisa jadi tontonan gratis dari lantai 2 atau 3. Saran sdh bertahun2 tp tidak digubris !!!

Selamat datang di negeri kedamaian

Share ya ....

KLIK LIKE UNTUK MENDAPATKAN ARTIKEL MENARIK, GRATIS!!